B50 dan El Nino Tekan Harga CPO, Prediksi Tembus US$1.720

Selasa, 01 September 2026 | 01:35:15 WIB
Direktur Eksekutif PASPI Tungkot Sipayung memaparkan proyeksi penurunan produksi CPO Indonesia hingga 2027 akibat El Nino.

JEJAKCARBON.COM — Indonesia bakal menghadapi teka-teki besar di industri sawit dua tahun mendatang. Harga CPO dunia yang diprediksi menguat justru datang bareng dengan penurunan produksi dan lonjakan konsumsi dalam negeri, terutama untuk program mandatori biodiesel B50.

Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI), Tungkot Sipayung, menyebut situasi ini sebagai tantangan dilematis. Pemerintah harus menyeimbangkan antara keinginan mengejar devisa dari ekspor dan kewajiban menjaga pasokan domestik untuk minyak goreng rakyat serta bahan bakar nabati.

Produksi Anjlok, Kebutuhan Domestik Justru Naik

Proyeksi PASPI menunjukkan produksi CPO Indonesia terus menyusut. Pada 2025 produksi mencapai 51,6 juta ton, lalu turun menjadi 49,2 juta ton di 2026, dan diperkirakan cuma 47,6 juta ton pada 2027.

Penyebab utamanya adalah El Nino yang melanda Indonesia dan Malaysia sejak kuartal III-2026. Dampak paling parah diperkirakan terjadi sepanjang 2027, dengan produksi sawit domestik tertekan signifikan.

Di sisi lain, konsumsi dalam negeri justru meningkat. Pada 2026 total kebutuhan CPO untuk pangan, oleokimia, dan biodiesel diperkirakan mencapai 26-27 juta ton, naik dari sekitar 24,6 juta ton pada 2025.

B50 Menambah Beban, Sisa Ekspor Menipis

Program B50 yang resmi dimulai 1 Juli 2026 menyerap sekitar 14 juta ton CPO pada tahun pertama. Jika berjalan penuh pada 2027, kebutuhan biodiesel justru melonjak menjadi sekitar 18 juta ton.

Ditambah kebutuhan pangan sekitar 10,2 juta ton dan oleokimia 2,2 juta ton, total konsumsi domestik 2027 bisa menembus 30 juta ton. Dengan produksi hanya 47,6 juta ton, sisa yang bisa diekspor otomatis menyempit.

"Kenaikan harga CPO dunia memberi kesempatan bagi Indonesia untuk memperbesar ekspor dan memperoleh devisa lebih besar. Namun ketersediaan untuk kebutuhan domestik, khususnya minyak goreng rakyat Minyakita dan mandatori biodiesel, jangan dikorbankan," kata Tungkot kepada CNBC Indonesia, Senin (31/8/2026).

Semester I 2026: Produksi Masih Tumbuh, tapi Stok Tertekan

Data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) menunjukkan produksi CPO periode Januari–Juni 2026 masih tumbuh 15,82% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, mencapai 30,28 juta ton. Pada Juni saja, produksi CPO dan PKO naik 8,59% dibanding bulan sebelumnya.

Namun konsumsi dalam negeri juga ikut naik 5,48% secara tahunan, terutama dari sektor biodiesel yang menembus 1,13 juta ton pada Juni. Ekspor pada Juni melonjak 64% dibanding Mei, mencapai 3,27 juta ton, sehingga stok akhir justru berisiko menipis.

Kenaikan harga memang memberikan insentif bagi pekebun untuk meningkatkan produksi. Tapi menurut Tungkot, ruang untuk terus menaikkan output di tengah El Nino ekstrem sangat terbatas. Satu-satunya peluang adalah mengidentifikasi kebun yang toleran kekeringan dan menerapkan praktik budi daya cepat panen.

Dengan tekanan ganda ini, Indonesia dipaksa mengelola sawit lebih hati-hati. Arti pentingnya bukan hanya bagi petani dan eksportir, tapi juga bagi ketahanan energi nasional lewat pasokan biodiesel yang menjadi tulang punggung B50.

Tags

Terkini