JEJAKCARBON.COM — Ketegangan di Selat Hormuz memanas lagi. Kapal Angkatan Laut AS menyerang dua peluncur roket milik Iran di Pulau Larak, Jumat (15/8). Target disebut sedang disiapkan Garda Revolusi Islam untuk meluncurkan roket berisi ranjau laut ke arah selat.
"Hari ini, pasukan AS menyerang dua peluncur milik Iran di Pulau Larak. Pasukan Garda Revolusi Islam terpantau sedang bersiap meluncurkan roket yang dilengkapi ranjau laut ke arah Selat Hormuz," ujar Kapten Angkatan Laut AS Tim Hawkins dalam pesan kepada AFP, Sabtu (16/8).
Belum ada keterangan resmi soal dampak serangan, termasuk apakah ada korban jiwa atau tidak. Yang jelas, ini serangan udara pertama AS ke wilayah Iran dalam beberapa bulan terakhir.
Lokasi Strategis yang Bikin Kapal RI Ikut Terdampak
Pulau Larak bukan sekadar titik di peta. Lokasinya persis di dekat Selat Hormuz, jalur laut yang jadi pintu keluar masuk sekitar seperlima minyak dunia. Konsekuensinya, gangguan sekecil apapun di area ini langsung berimbas ke lalu lintas kapal dagang internasional.
Kapal-kapal berbendera Indonesia pun melintas di sana. Salah satunya kapal tanker Gamsunoro milik Pertamina International Shipping yang posisi terakhirnya terekam data AIS di sekitar kawasan tersebut. Artinya, eskalasi ini bukan cuma soal geopolitik jauh di Timur Tengah, tapi juga menyangkut keamanan pelayaran dan pasokan energi nasional.
Pernyataan Keras dari Dua Kubu
Di tengah ketegangan itu, Presiden AS Donald Trump sempat melontarkan pernyataan yang mengundang reaksi. Sambil terkekeh di acara Akademi Kepolisian Negara Bagian New York, Jumat (15/8), dia menyebut akan mendeklarasikan kawasan itu sebagai teritorial AS setelah mengalahkan Iran.
Seorang pejabat Gedung Putih yang enggan disebut namanya langsung meredam pernyataan tersebut. Menurutnya, itu hanya candaan Trump kepada reporter Wall Street Journal, bukan kebijakan resmi.
Pernyataan itu tetap memantik respons tegas dari Teheran. Wakil Perdana Menteri Iran, Kazem Gharibabadi, lewat akun X-nya menegaskan, "Selat Hormuz dari dulu sampai sekarang adalah milik Iran, dan akan tetap menjadi milik Iran. Selat ini akan dibuka, atau ditutup berdasar komando Iran."
Sampai berita ini diturunkan, belum ada perkembangan baru soal kondisi terkini di Pulau Larak. Namun yang pasti, situasi di jalur pelayaran paling sibuk di dunia ini masih jauh dari kata tenang.