Tirakatan 16 Agustus di Tengah Duka NTT, Warga Kalimantan Barat Diajak Perluas Rasa Senasib dan Sebangsa

Tirakatan 16 Agustus di Tengah Duka NTT, Warga Kalimantan Barat Diajak Perluas Rasa Senasib dan Sebangsa
Warga mengikuti tirakatan 16 Agustus di Kalimantan Barat dengan doa dan berbagi makanan bersama.

PONTIANAK — Kemerdekaan Indonesia yang ke-81 tahun tidak melulu dirayakan dengan kemeriahan. Di banyak kampung, termasuk di Kalimantan Barat, makna kemerdekaan justru menemukan bentuknya yang paling sederhana melalui tradisi tirakatan pada malam 16 Agustus, saat warga duduk berdekatan, memanjatkan doa, dan berbagi makanan tanpa memandang status sosial.

Tradisi yang mengakar kuat di masyarakat Jawa ini memiliki kekuatan untuk mempertemukan warga dalam ruang yang setara. Tidak ada panggung besar atau jarak antara tokoh masyarakat dan warga biasa; semua duduk bersama sebagai tetangga.

Namun, di tengah suasana syukur menyambut hari kemerdekaan, ada duka yang menyelimuti sebagian saudara sebangsa. Gempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Flores, NTT, hingga Sabtu malam telah menewaskan sedikitnya 47 orang dan merusak rumah warga serta fasilitas umum. Kontras antara perayaan dan duka ini menjadi ujian nyata bagi persatuan bangsa.

Kemerdekaan yang Melampaui Sekadar Perayaan

Makna tirakatan menjadi lebih dalam ketika dikaitkan dengan kondisi bangsa saat ini. Penjajahan fisik memang telah berlalu, namun persoalan seperti kesenjangan, kemiskinan, korupsi, hingga disinformasi masih menjadi pekerjaan rumah yang belum tuntas.

Rasa syukur atas kemerdekaan tidak cukup berhenti pada penghormatan terhadap pahlawan. Syukur perlu diterjemahkan menjadi tanggung jawab sosial yang konkret, seperti menjalankan jabatan dengan amanah, menggunakan ilmu untuk kepentingan masyarakat, dan menciptakan lapangan pekerjaan. Generasi muda juga dituntut menjaga ruang digital agar tidak menjadi tempat berkembangnya kebencian dan informasi palsu.

Menjadi ironis apabila malam tirakatan hanya selesai dengan makan bersama, sementara setelahnya warga kembali mudah terprovokasi atau tidak peduli ketika tetangga menghadapi kesulitan.

Duka di Flores adalah Duka Bersama

Kemerdekaan seharusnya memperluas rasa senasib. Persoalan satu warga semestinya dilihat sebagai persoalan lingkungan, dan masalah satu daerah menjadi kepedulian daerah lainnya. Ketika warga di Pontianak, Singkawang, atau Sintang duduk dalam lingkaran tirakatan, doa yang dipanjatkan sebaiknya juga mengingat saudara sebangsa yang sedang bertahan di tengah kerusakan akibat bencana di Flores.

Kehadiran negara dalam penanganan bencana menjadi bentuk nyata dari kewajiban melindungi seluruh rakyat. Upaya evakuasi, pencarian korban, pelayanan kesehatan, dan pendataan bukan sekadar pekerjaan teknis, melainkan wujud nyata bahwa negara hadir di tengah warga yang paling rentan.

Di tengah arus informasi yang cepat, bencana dapat menjadi ruang solidaritas, tetapi juga berpotensi menjadi ruang penyebaran kabar yang belum terverifikasi. Disiplin terhadap informasi adalah salah satu bentuk tirakatan di zaman sekarang. Menahan diri untuk tidak menyebarkan angka korban yang belum pasti atau mengedarkan foto tanpa konteks merupakan bagian dari tanggung jawab kebangsaan.

Merdeka berarti juga merdeka dari kebiasaan memperlakukan penderitaan orang lain sebagai tontonan atau bahan perdebatan. Empati kebangsaan yang lahir dari malam tirakatan inilah yang diharapkan mampu menjadi jembatan antara sejarah perjuangan dan tantangan zaman yang semakin kompleks.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index